Minggu, 21 Oktober 2018

Horor: Teror Penghuni Kebun Barat Kuburan


sumber pic: https://travel.dream.co.id/community/seram-ini-dia-9-hutan-paling-angker-di-dunia-161228q.html

Aku masih ingat, hari tanggal 19 januari 2015. Sudah tiga hari hujan tak reda. Waktu itu jam setengah 6 sore, aku duduk di teras sendiri sambil ngopi. Hawa dingin menusuk sampai ngilu di tulang karena masih gerimis di tambah angin berhembus perlahan. Kopiku baru kuminum setengah, terdengar suara adzan maghrib. Nenekku memanggilku agar masuk kedalam karena di desaku sedang marak wewe gombel. “le mlebu,o wes surup!” (nak masuk kedalam udah petang) kata nenek ku. Tapi kau ngeyel karena sedang asik main game online.
Tidak berselang lama tiba-tiba angin yang tadi berhembus pelan bertambah kencang sehingga menambah hawa dingin. Aku tidak memperdulikannya, aku tetap asik main game online. Lalu, terdengar suara burung entah burung apa tapi suaranya bikin bulu kuduk merinding. Karena mulai merasa sedikit takut, dengan buru-buru kau membawa laptop sama hpku dan lari kedalam, tanpa sengaja gelas kopi aku senggol dan pecah, karena takut aku sudah tak memperdulikanya. Baru mau buka pintu, aku melihat sekelebat kain putih terbang dengan cepat kesamping rumahku. Entah mengapa aku seperti ditarik untuk mengikuti kemana benda itu terbang. Benar saja saat aku sampai di samping rumah, betengger di dahan pohon cengkeh dengan santainya wewe gombel, dengan wujud yang seperti cerita orang pada umumnya. Dia menyeringai seram menetap kearahku, tubuhku lumpuh seketika, tak bisa bergerak, jangankan teriak berbicara saja seperti orang gagu. Dengan rasa takut yang sudah memuncak kau mencoba berdoa semampuku.
Sambil tertawa seram, dia terbang dengan cepat kerahku. Sekejab aku tak sadarkan diri sampai  jam 8 malem. Aku bertanya sama nenekku apa yang telah terjadi sama aku, dia bilang aku hampir dibawa wewe gombel. Tapi dia bilang aku masih dilindungi oleh khodam didalam kalung yang kakek berikan kepadaku sewaktu dia masih hidup. Aku bingung, tapi nenek tidak mau menjelaskannya kepadaku. Dia menyuruhku untuk tidur, aku menurut saja karena udah kapok tadi ngeyel malah hampir di culik.
Jam sengah 12 aku terbangun karena mendengar suara burung hantu di pohon asem di samping kamarku. Aku tak memperdulikannya aku mancoba untuk tidur lagi, namun terganggu oleh bau anyir yang menyengat entah darimana datangnya. Hawa dingin menusuk tulang, angin kencang masuk kamarku, padahal kamarku udah tertutup. Suara burung hatu tadi tiba-tiba berhenti dan terganti dengan suara tawa miss kunti yang khas dengan efeknya yang bikin bergidik ngeri. Dengan sigap kututup wajahku dengan selimut. Suara itu lama-lama seperti menjauh, tapi bau anyir tadi ttidak mau hilang. Dengan perlahan kubuka selimutku, namun yang kulihat diluar dugaanku. Wajah pocong  tepat di depan wajahku paling hanya berjarak 10 cm. Wajah pocong itu hancur, matanya satu hilang, yang satu keluar dari tengkorak, kulit gosong berlumur darah dengan bau anyir yang sangat menyengat. Aku dan pocong itu saling tatap sekitar 5 menit, tubuhku kaku tak bisa bergerak, mulut terbungkam tak bisa teriak. Aku hanya bisa berdoa dalam hati dalam ketakutan, aku hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tiba-tiba nenek masuk kedalam kamarku. Seketika, pocong tersebut menghilang namun bau anyir masih terasa pekat. Tanpa banyak bicara nenek meyebar garam kasar di sekitar kamarku. “sore mau koe ngopo le?”(sore tadi kamu ngapain nak) tanya nenekku dengan sedikit nada tinggi. Dengan ketakutan ku jawab “kulo mau bedil dares neng kebon kulon kuburan mbah” (saya tadi nembak burung hantu di kebun barat kuburan). Dengan wajah marah nenek membentakku “koe ki dikandani ojo seneng bedil neng kulon kuburan ngeyel, sek kok bedil iku mau penunggu nek kebon kulon kuburan kono, dadi bolone podo ngetutne koe tekan kene” (kamu itu dinasehati janagan suka berburu di barat kuburan ngeyel, yang kamu tembak itu penunggu di kebun tersebut, jadi teman). Aku hanya terdiam karena masih terbayang dengan wajah pocong yang kutatap tadi. Tatapan amarah yang masih aku ingat sampai sekarang.
Teror tersebut tetap berlangsung selama seminggu bahkan semakin parah.dari pocong yang selalu terlihat di jendela kamarku, tindihan, mata merah di pojok kamarku, suara orang mandi, suara ringkikan kuda, dan bau anyir yag selalu masuk kamar setelah maghrib. Dan semua itu hanya kau yang bisa melihat dan meraskan. Hingga pada akhirnya nenek manggil orang pintar untuk melakukan pembersihan terhadap diriku. Setelah dilakukan pembersihan tersebut teror sedikit demi sedikit mulai mereda. Tapi sampai sekarang teror tersebut masih belum bisa kulupakan dan membuatku kapok hingga akhirnya kujual senapan anginku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar