sumber pic: https://travel.dream.co.id/community/seram-ini-dia-9-hutan-paling-angker-di-dunia-161228q.html
Aku masih ingat, hari tanggal 19
januari 2015. Sudah tiga hari hujan tak reda. Waktu itu jam setengah 6 sore,
aku duduk di teras sendiri sambil ngopi. Hawa dingin menusuk sampai ngilu di
tulang karena masih gerimis di tambah angin berhembus perlahan. Kopiku baru
kuminum setengah, terdengar suara adzan maghrib. Nenekku memanggilku agar masuk
kedalam karena di desaku sedang marak wewe gombel. “le mlebu,o wes surup!” (nak masuk kedalam udah petang) kata
nenek ku. Tapi kau ngeyel karena sedang asik main game online.
Tidak berselang lama tiba-tiba
angin yang tadi berhembus pelan bertambah kencang sehingga menambah hawa
dingin. Aku tidak memperdulikannya, aku tetap asik main game online. Lalu,
terdengar suara burung entah burung apa tapi suaranya bikin bulu kuduk
merinding. Karena mulai merasa sedikit takut, dengan buru-buru kau membawa
laptop sama hpku dan lari kedalam, tanpa sengaja gelas kopi aku senggol dan
pecah, karena takut aku sudah tak memperdulikanya. Baru mau buka pintu, aku
melihat sekelebat kain putih terbang dengan cepat kesamping rumahku. Entah
mengapa aku seperti ditarik untuk mengikuti kemana benda itu terbang. Benar
saja saat aku sampai di samping rumah, betengger di dahan pohon cengkeh dengan
santainya wewe gombel, dengan wujud yang seperti cerita orang pada umumnya. Dia
menyeringai seram menetap kearahku, tubuhku lumpuh seketika, tak bisa bergerak,
jangankan teriak berbicara saja seperti orang gagu. Dengan rasa takut yang
sudah memuncak kau mencoba berdoa semampuku.
Sambil tertawa seram, dia terbang
dengan cepat kerahku. Sekejab aku tak sadarkan diri sampai jam 8 malem. Aku bertanya sama nenekku apa
yang telah terjadi sama aku, dia bilang aku hampir dibawa wewe gombel. Tapi dia
bilang aku masih dilindungi oleh khodam didalam kalung yang kakek berikan
kepadaku sewaktu dia masih hidup. Aku bingung, tapi nenek tidak mau menjelaskannya
kepadaku. Dia menyuruhku untuk tidur, aku menurut saja karena udah kapok tadi
ngeyel malah hampir di culik.
Jam sengah 12 aku terbangun
karena mendengar suara burung hantu di pohon asem di samping kamarku. Aku tak
memperdulikannya aku mancoba untuk tidur lagi, namun terganggu oleh bau anyir
yang menyengat entah darimana datangnya. Hawa dingin menusuk tulang, angin
kencang masuk kamarku, padahal kamarku udah tertutup. Suara burung hatu tadi
tiba-tiba berhenti dan terganti dengan suara tawa miss kunti yang khas dengan
efeknya yang bikin bergidik ngeri. Dengan sigap kututup wajahku dengan selimut.
Suara itu lama-lama seperti menjauh, tapi bau anyir tadi ttidak mau hilang.
Dengan perlahan kubuka selimutku, namun yang kulihat diluar dugaanku. Wajah
pocong tepat di depan wajahku paling
hanya berjarak 10 cm. Wajah pocong itu hancur, matanya satu hilang, yang satu
keluar dari tengkorak, kulit gosong berlumur darah dengan bau anyir yang sangat
menyengat. Aku dan pocong itu saling tatap sekitar 5 menit, tubuhku kaku tak
bisa bergerak, mulut terbungkam tak bisa teriak. Aku hanya bisa berdoa dalam
hati dalam ketakutan, aku hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi
selanjutnya.
Tiba-tiba nenek masuk kedalam
kamarku. Seketika, pocong tersebut menghilang namun bau anyir masih terasa
pekat. Tanpa banyak bicara nenek meyebar garam kasar di sekitar kamarku. “sore
mau koe ngopo le?”(sore tadi kamu ngapain
nak) tanya nenekku dengan sedikit nada tinggi. Dengan ketakutan ku jawab
“kulo mau bedil dares neng kebon kulon kuburan mbah” (saya tadi nembak burung hantu di kebun barat kuburan). Dengan wajah
marah nenek membentakku “koe ki dikandani
ojo seneng bedil neng kulon kuburan ngeyel, sek kok bedil iku mau penunggu nek
kebon kulon kuburan kono, dadi bolone podo ngetutne koe tekan kene” (kamu itu
dinasehati janagan suka berburu di barat kuburan ngeyel, yang kamu tembak itu
penunggu di kebun tersebut, jadi teman). Aku hanya terdiam karena masih
terbayang dengan wajah pocong yang kutatap tadi. Tatapan amarah yang masih aku
ingat sampai sekarang.
Teror tersebut tetap berlangsung
selama seminggu bahkan semakin parah.dari pocong yang selalu terlihat di
jendela kamarku, tindihan, mata merah di pojok kamarku, suara orang mandi,
suara ringkikan kuda, dan bau anyir yag selalu masuk kamar setelah maghrib. Dan
semua itu hanya kau yang bisa melihat dan meraskan. Hingga pada akhirnya nenek
manggil orang pintar untuk melakukan pembersihan terhadap diriku. Setelah
dilakukan pembersihan tersebut teror sedikit demi sedikit mulai mereda. Tapi
sampai sekarang teror tersebut masih belum bisa kulupakan dan membuatku kapok
hingga akhirnya kujual senapan anginku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar